Menikmati Wine Seperti Pro, Etika Wine Tasting di Restoran Fine Dining
Memesan wine di restoran fine dining kadang bisa terasa membingungkan, terutama saat daftar pilihannya panjang dan tata cara penyajiannya terlihat sangat formal. Namun, etika menikmati wine sebenarnya bukan tentang aturan yang kaku, melainkan membantu Anda merasa lebih nyaman saat memilih, mencicipi, dan menikmati wine di meja makan. Dengan memahami beberapa hal penting, pengalaman memesan wine bisa terasa lebih santai, percaya diri, dan menyenangkan.
Titik awal yang paling mudah adalah memahami lima langkah klasik dalam menikmati wine, yaitu see, swirl, sniff, sip, savor. Pertama, lihat dulu warna dan kejernihan wine. Dari sini, Anda sudah bisa menangkap sedikit gambaran soal karakternya bahkan sebelum mencicipinya. Setelah itu, putar gelas perlahan. Gerakan ini sering ditiru banyak orang tanpa benar-benar tahu fungsinya, padahal cukup masuk akal. Saat gelas diputar, wine akan lebih banyak bersentuhan dengan udara dan aromanya lebih mudah keluar. Lalu cium aromanya. Dalam wine tasting, penciuman sama pentingnya dengan lidah, karena banyak hal yang kemudian kita sebut sebagai aroma buah, rempah, kayu, bunga, atau tanah justru lebih dulu tertangkap lewat hidung. Setelah itu, ambil sedikit tegukan. Biarkan sejenak menyentuh lidah, jangan langsung ditelan terlalu cepat. Terakhir, nikmati finish-nya, yaitu rasa yang tertinggal setelah wine lewat. Sering kali, kualitas sebuah wine justru paling terasa di tahap ini.
Dalam konteks fine dining, ada beberapa hal tambahan yang juga perlu dipahami. Saat staf menuangkan sedikit wine untuk dicicipi, itu bukan ujian apakah Anda suka atau tidak suka dengan wine tersebut. Tujuannya adalah memastikan kondisi botolnya baik dan wine disajikan dengan benar. Cukup dengan anggukan santai, sedikit dicium, lalu dicicipi sedikit. Kalau ada yang terasa janggal, tidak perlu panik atau merasa sungkan. Sampaikan saja dengan sopan bahwa aromanya terasa corked, teroksidasi, atau tidak biasa. Staf profesional akan membantu menanganinya. Prinsip yang sama juga berlaku saat memegang gelas. Pegang bagian batang gelas, bukan mangkuknya. Cara ini menjaga gelas tetap bersih dari sidik jari, memudahkan saat diputar, dan mencegah suhu tangan menghangatkan wine terlalu cepat.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa membuat pelayanan wine terasa jauh lebih mudah. Mulailah dari wine yang lebih ringan lalu lanjut ke yang body-nya lebih penuh, supaya lidah tidak langsung “tertimpa” rasa yang terlalu berat di awal. Bertanyalah kalau jenis anggur, gaya wine, atau pasangan makanannya terasa asing. Nikmati pelan-pelan, apalagi kalau di meja ada lebih dari satu botol atau lebih dari satu hidangan. Minum air putih di sela-sela tuangan juga membantu. Lalu sesuaikan wine dengan makanan di depan Anda, karena red wine yang lebih berstruktur biasanya jauh lebih pas menemani steik atau prime rib dibanding hidangan pembuka yang ringan.
Ada juga beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Hindari parfum yang terlalu kuat karena akan mengganggu aroma wine. Jangan memegang mangkuk gelas. Jangan menenggak tuangan tasting seolah-olah itu es teh. Jangan menjadikan sommelier atau staf sebagai penonton pertunjukan Anda. Dan jangan berpura-pura antusias kalau wine-nya memang tidak cocok di lidah. Etika wine bukan soal pamer pengetahuan, melainkan soal perhatian dan kepekaan.
Di sinilah peran restoran yang baik terasa penting. Di tempat seperti Lawry’s The Prime Rib Jakarta, pelayanan wine terasa lebih seperti panduan yang membantu, bukan sesuatu yang mengintimidasi. Pilihan wine internasional yang terkurasi jelas penting, tetapi kualitas stafnya sama pentingnya. Pelayanan yang baik berarti membantu tamu memilih botol yang cocok, baik dengan hidangannya maupun dengan suasana saat itu, entah meja sedang memesan hidangan laut, daging panggang, atau prime rib andalan restoran. Bagi penikmat fine dining di Jakarta, dukungan seperti ini membuat pengalaman menikmati wine terasa lebih praktis, lebih ramah, dan jauh lebih berguna. Anda bisa melihat pilihan di menu Lawry’s dan melakukan reservasi saat siap mencoba sendiri pasangan wine dan hidangannya.
FAQ
Ikuti lima langkah klasik: see, swirl, sniff, sip, savor. Lihat warnanya terlebih dahulu, lalu putar perlahan untuk melepaskan aromanya, cium sebelum mencicipi, biarkan wine sejenak menyentuh lidah, dan perhatikan rasa yang tertinggal setelah ditelan. Finish inilah yang sering kali paling banyak bercerita tentang wine tersebut.
Pegang bagian batangnya, bukan mangkuknya. Cara ini menjaga gelas tetap bersih dari sidik jari, memudahkan saat diputar, dan mencegah tangan Anda menghangatkan wine terlalu cepat, yang bisa memengaruhi suhu maupun rasanya.
Tentu saja. Bertanya adalah bagian dari pengalamannya, bukan tanda kurang berpengalaman. Kalau ada jenis anggur, gaya wine, atau saran pairing yang terasa asing, staf ada di sana untuk membantu. Restoran yang baik akan memandu Anda ke pilihan yang sesuai dengan selera sekaligus makanan di depan Anda.
Reserve Table
Lawry’s Restaurants is the perfect place to begin your venue search for any occasion.
Related Blog
Based on What You Read
Urutan Potongan Steik Paling Berlemak Berdasarkan Rasa dan Marbling
10 Steak Termahal di Dunia: Apakah Harganya Sebanding dengan Kualitasnya?