Apa Bedanya Porterhouse dan T-Bone Steak?
Sekilas, porterhouse dan T-bone memang terlihat mirip. Keduanya sama-sama disajikan sebagai potongan besar dengan tulang berbentuk huruf “T” di tengah, memisahkan dua jenis daging di tiap sisinya. Keduanya juga punya rasa daging sapi yang kaya, aroma panggangan yang menggoda, dan nuansa mewah khas steakhouse. Tapi meskipun tampilannya mirip, sebenarnya keduanya bukan steak yang sama. Kalau Anda memperhatikan tekstur, ukuran, tampilan, dan cara memasaknya, perbedaannya terasa jelas.
Mari mulai dari dasarnya. Baik porterhouse maupun T-bone sama-sama berasal dari bagian short loin sapi. Ini merupakan bagian yang dikenal menghasilkan daging paling empuk dan berkualitas tinggi. Potongan ini bisa dibilang dua steak dalam satu: di satu sisi tulang ada New York strip yang bertekstur padat dan juicy dengan rasa khas steakhouse, sedangkan di sisi lainnya ada tenderloin atau filet mignon, yang terkenal super lembut dan rendah lemak. Jadi, Anda dapat dua hal sekaligus dengan rasa kuat dan tekstur lembut yang mewah. Tak heran kalau keduanya disebut “rajanya steak” dan sering disajikan untuk dinikmati berdua.
Table of Contents
ToggleLalu, apa itu porterhouse steak?
Porterhouse diambil dari bagian belakang short loin, di mana bagian tenderloin-nya paling tebal. Menurut standar USDA (United States Department of Agriculture), bagian tenderloin pada porterhouse harus berukuran minimal 1,25 inci di bagian terlebarnya. Karena itu, porterhouse biasanya berukuran besar, sering kali lebih dari 24 ons, dan umumnya disajikan untuk dua orang. Saat disajikan, tampilannya sangat menggoda: potongan strip steak besar berpadu dengan tenderloin tebal, dipisahkan oleh tulang, dengan marbling indah, siap dipotong langsung di meja.
Sedangkan T-bone steak berasal dari bagian short loin yang sedikit lebih ke depan, di mana tenderloin mulai menipis. Potongannya tetap punya tulang berbentuk “T”, dengan strip steak di satu sisi dan tenderloin di sisi lainnya, tapi bagian filet-nya lebih kecil. Kalau tenderloin-nya berukuran kurang dari 1,25 inci, maka itu T-bone, bukan porterhouse. Beberapa T-bone bisa cukup tebal dan pas untuk satu orang yang punya selera besar atau dibagi dua untuk porsi ringan, tapi secara umum, T-bone lebih cocok sebagai porsi individual, sekitar 18 ons, bukan tipe steak besar untuk berbagi.
Dengan kata lain, setiap porterhouse sebenarnya termasuk T-bone, tapi tidak semua T-bone bisa disebut porterhouse. Pembeda utamanya ada di ukuran filet-nya. Perbedaan ukuran ini juga memengaruhi harga. Porterhouse biasanya lebih mahal karena Anda mendapatkan dua jenis steak besar dalam satu potongan strip steak utuh dan filet mignon tebal, sementara T-bone dengan filet lebih kecil biasanya harganya sedikit lebih ramah di kantong.
Sekarang soal cara memasak.
Kedua potongan ini paling pas dimasak dengan panas tinggi. Cara klasiknya adalah memanggang di atas bara atau grill panas untuk mendapatkan sear atau kerak kecokelatan yang renyah di luar tapi tetap juicy di dalam. Tulangnya juga punya peran penting karena membantu menjaga kelembapan dan menambah rasa gurih alami. Karena porterhouse biasanya lebih tebal, potongan ini bisa dimasak lebih lama tanpa membuat bagian tengahnya kering. Ini ideal dimasak dengan teknik dua zona: panggang dulu di suhu tinggi untuk membentuk kerak, lalu pindahkan ke suhu lebih rendah agar bagian dalam matang perlahan hingga medium rare. Anda juga bisa memasaknya di wajan besi panas lalu melanjutkannya di oven sambil disiram mentega, bawang putih, dan herba untuk aroma yang lebih kaya.
T-bone steak bisa dimasak dengan cara yang sama, tapi ketebalannya penting. Kalau potongannya lebih tipis, waktu untuk mendapatkan kerak sempurna jadi lebih singkat sebelum bagian dalamnya terlalu matang. Karena itu, gunakan api tinggi, perhatikan waktu, dan sebaiknya gunakan termometer daging. Masak di wajan panas dengan minyak yang tahan suhu tinggi, buat keraknya cepat, lalu lanjutkan sebentar di oven panas kalau perlu. Setelah matang, jangan langsung dipotong, diamkan dulu beberapa menit supaya sarinya kembali terserap ke dalam daging dan tidak keluar saat disajikan.
Lalu, mana yang sebaiknya dipilih: porterhouse atau T-bone?
Semua tergantung selera dan suasana. Kalau Anda ingin berbagi, merayakan sesuatu, atau sekadar menikmati sensasi “wow” dari potongan besar, porterhouse jelas pilihannya. Ukurannya besar, tampilannya mengesankan, dan menawarkan dua tekstur sekaligus, lembutnya filet dan padatnya strip. Tapi kalau Anda ingin menikmati sendiri dan lebih suka rasa khas strip steak dengan sedikit bagian tenderloin tanpa porsi terlalu besar, maka T-bone adalah pilihan paling pas. Rasanya tetap kaya, tampilannya tetap elegan, tapi porsinya lebih bersahabat.
Dan tentu saja, Anda bisa menyerahkan semuanya pada ahlinya. Di Lawry’s The Prime Rib Jakarta, restoran fine dining legendaris yang dikenal dengan tradisi dan kemewahannya, porterhouse dan potongan bone-in lainnya dimasak dengan teknik yang presisi. Setiap potongan diolah dengan penuh perhatian, dipotong dengan keahlian, dan disajikan dengan tampilan yang menggugah selera.
Telusuri Lawry’s menu, pilih potongan steak sesuai selera, dan nikmati sajian lengkap dengan pendamping terbaiknya. Untuk malam yang berfokus pada steak, cahaya lilin, dan suasana hangat nan elegan, book your seat dan rasakan porterhouse atau T-bone di pengalaman bersantap mewah yang berkesan dari suapan pertama sampai gigitan terakhir.
Reserve Table
Lawry’s Restaurants is the perfect place to begin your venue search for any occasion.
Related Blog
Based on What You Read
Nikmati Kemewahan English Trifle di Lawry’s
Resep Saus Steak Red Wine: Kaya Rasa, Berani, dan Super Lezat