Apakah Steik Sehat? Ini Penjelasan Ahli Gizi tentang Konsumsi Daging Sapi
Ya, steik bisa menjadi bagian dari pola makan sehat. Daging ini mengandung protein lengkap, zat besi heme yang mudah diserap tubuh, zinc, fosfor, vitamin B12, serta berbagai vitamin B lainnya. Namun, jawabannya tetap bergantung pada tiga hal: potongan daging yang dipilih, ukuran porsinya, dan seberapa sering Anda mengonsumsinya.
Seporsi steik tanpa banyak lemak yang dinikmati bersama sayuran tentu memiliki profil gizi yang berbeda dari steik berukuran besar, dipanggang hingga terlalu gosong, lalu disajikan dengan berbagai pendamping berat. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai manfaat steik dan kapan Anda perlu mulai memperhatikan porsinya.
Table of Contents
ToggleNutrisi Apa Saja yang Terkandung dalam Steik?
Daging sapi mengandung protein lengkap, yang berarti menyediakan sembilan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Protein berperan dalam menjaga massa otot, memperbaiki jaringan, serta membantu pembentukan enzim dan hormon.
Steik juga merupakan sumber zat besi heme, yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi non-heme dari makanan nabati. Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein yang membawa oksigen melalui darah.
Vitamin B12 membantu menjaga kesehatan sel darah dan saraf. Zinc mendukung sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan sel, dan penyembuhan luka. Sementara itu, fosfor membantu menjaga kekuatan tulang dan gigi serta berperan dalam proses pembentukan energi. Kandungan tersebut membuat steik termasuk makanan padat gizi. Meski begitu, ukuran porsi tetap perlu diperhatikan!
Apakah Steik Baik atau Buruk untuk Kesehatan?
Penelitian gizi tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa steik sepenuhnya “baik” atau “buruk”. Sejumlah studi mengaitkan konsumsi daging merah dalam jumlah tinggi dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal.
American Institute for Cancer Research menyarankan konsumsi daging merah matang dibatasi sekitar 12 hingga 18 ons, atau kurang lebih 340 hingga 510 gram per minggu. Konsumsi daging olahan juga sebaiknya dibatasi seminimal mungkin.
Perbedaan antara daging merah segar dan daging olahan penting untuk dipahami. Sebuah penelitian pada 2021 yang melibatkan peserta dari 21 negara tidak menemukan hubungan signifikan antara konsumsi daging merah yang tidak diolah dengan penyakit kardiovaskular berat atau kematian. Sebaliknya, kaitan tersebut terlihat pada daging olahan.
Beberapa tinjauan penelitian lain memang menemukan peningkatan risiko pada keduanya, meski hubungannya cenderung lebih kuat pada daging olahan. Jadi, pendekatan yang paling masuk akal adalah menjaga porsi, mengonsumsi makanan yang beragam, dan melihat pola makan secara keseluruhan. Sesekali menikmati steik tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran.
Apakah Kualitas Daging Memengaruhi Kandungan Gizinya?
Standar kualitas dapat meningkatkan konsistensi, keempukan, dan pengalaman saat menikmati daging, tetapi tidak sama dengan sertifikasi kesehatan. Certified Angus Beef, misalnya, harus memenuhi sepuluh standar kualitas, termasuk tingkat marbling tertentu.
Marbling memberi rasa yang lebih kaya dan tekstur lebih empuk, tetapi juga menambah kandungan lemak serta kalori.
Komposisi lemak daging sapi dapat berbeda berdasarkan ras sapi, jenis pakan, dan potongannya. Penelitian terhadap Wagyu menemukan bahwa daging ini memiliki proporsi lemak tak jenuh tunggal, termasuk asam oleat, yang lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis daging sapi konvensional.
Namun, angkanya dapat berbeda-beda. Kandungan asam oleat yang lebih tinggi juga tidak menghilangkan dampak dari porsi berlebihan atau asupan lemak jenuh yang terlalu banyak.
Daging olahan tetap perlu ditempatkan dalam kategori berbeda karena proses pengawetan, pengasapan, penggaraman, dan penggunaan bahan tambahan dapat mengubah profil gizinya.
Potongan Steik Mana yang Paling Sehat?
Tenderloin, top sirloin, eye of round, top round, dan flank steak umumnya termasuk pilihan yang lebih rendah lemak. Potongan-potongan ini tetap tinggi protein, dengan kandungan lemak total dan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan potongan ber-marbling tinggi seperti ribeye.
Ribeye dan prime rib tetap mengandung protein, zat besi, zinc, dan vitamin B12. Hanya saja, ukuran porsinya perlu lebih diperhatikan. Anda juga dapat membaca panduan Lawry’s mengenai potongan steik paling sehat untuk membantu membandingkan setiap pilihan.
Susunan hidangan juga ikut menentukan. Padukan steik dengan sayuran, pilih hidangan pendamping yang lebih ringan, buang lemak berlebih di bagian luar bila perlu, dan hindari memanggang permukaan daging hingga gosong.
Di Lawry’s, prime rib disiapkan menggunakan Certified Angus Beef dan tersedia dalam beberapa ukuran, mulai dari Jakarta Cut seberat 170 gram. Bagi Anda yang sedang mencari pengalaman fine dining di Jakarta, lihat menu Lawry’s terlebih dahulu, pilih porsi yang sesuai dengan selera dan kebutuhan, lalu lakukan reservasi untuk menikmati prime rib dengan lebih bijak.
Reserve Table
Lawry’s Restaurants is the perfect place to begin your venue search for any occasion.
Related Blog
Based on What You Read
Cara Mengetahui Steik Sudah Tidak Layak Dimakan
Panduan Saus untuk Prime Rib: Au Jus, Horseradish, dan Pilihan Pendamping Lainnya