15 Etika Makan yang Harus Dihindari
Kita semua setuju bahwa etika makan yang buruk bisa sangat mengganggu hingga mempengaruhi keseluruhan pengalaman makan. Kita semua ingin menikmati waktu makan dengan keluarga dan teman-teman dengan nyaman, jadi penting untuk memperhatikan daftar ini agar bisa menghindari kebiasaan yang tidak pantas saat makan.
Table of Contents
Toggle1. Mencelup Dua Kali
Mencelupkan makanan ke saus, menggigitnya, lalu mencelup lagi adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Hindari kebiasaan ini saat berbagi hidangan dengan orang lain. Kebiasaan ini tidak hanya menyebarkan kuman, tetapi juga menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap orang lain.
2. Mengambil Bagian Terbaik
Apakah itu mengambil semua udang dari hidangan atau menghabiskan kulit renyah dari roast, mengambil bagian terbaik dari hidangan bersama tanpa memperhatikan orang lain adalah pelanggaran jelas terhadap etika makan. Perhatikan orang lain—jika Anda telah mengambil porsi terbaik atau terbesar dari suatu hidangan, beri kesempatan kepada orang lain untuk mengambil bagian berikutnya.
3. Mengunyah dengan Mulut Terbuka
Ini adalah pelanggaran klasik etika makan. Melihat dan mendengar seseorang mengunyah dengan mulut terbuka tidak hanya menjijikkan tetapi juga mengganggu suasana makan. Perhatikan mulut Anda saat makan, jangan sampai makanan tercecer dan mengenai orang di sekitar Anda.
4. Menyentuh Semua Makanan
Bayangkan jika Anda melihat seseorang yang menangani setiap potong dessert di piring bersama, seolah mereka sedang memeriksa setiap potong. Selain tidak higienis, ini juga tidak sopan, merusak presentasi hidangan dan bisa membuat orang lain kehilangan selera makan.
5. Menggunakan Ponsel di Meja Makan
Di era gangguan digital ini, tidak ada yang lebih mengganggu daripada ponsel yang berdering di meja makan. Menjawab telepon atau mengirim pesan saat makan tidak hanya kasar tetapi juga mengurangi pengalaman sosial. Nikmati momen makan Anda dan hadir secara penuh!
6. Mengeluarkan Ingus di Meja Makan
Ini benar-benar tidak dapat diterima. Membersihkan sinus saat orang lain sedang menikmati makanan adalah tanda kurangnya rasa hormat. Jika perlu, pergilah ke toilet—tidak ada yang ingin mendengar atau melihat ini saat makan.
7. Bersikap Kasar pada Pelayan
Di restoran fine dining, tim pelayan terlatih untuk memahami kebutuhan Anda sebelum Anda memintanya (bukan sekadar mengantarkan pesanan). Di Lawry’s, staf kami adalah bagian penting dari pengalaman yang kami ciptakan. Bersikap meremehkan atau tidak sabar kepada mereka mencerminkan diri Anda sebagai tamu dan merusak suasana bagi semua orang di meja. Kesabaran dan sopan santun adalah tanda tamu yang sesungguhnya.
8. Mencapai ke Meja
Meraih sesuatu di meja dengan meregangkan tangan, daripada meminta untuk diserahkan, mengganggu alur makan dan menginvasi ruang pribadi orang lain. Terutama, ini bisa membuat Anda menjatuhkan piring dan gelas, mengubah waktu yang menyenangkan menjadi pengalaman buruk jika anggur tumpah dan mengotori pakaian orang lain.
9. Berbicara dengan Mulut Penuh
Berbicara dengan mulut penuh tidak hanya tidak menarik tetapi juga menghambat komunikasi yang jelas. Selalu habiskan mengunyah sebelum berbicara.
10. Fidgeting di Meja
Terus-menerus menyesuaikan dasi, bermain dengan perhiasan, atau memutar-mutar alat makan bisa sangat mengganggu. Duduklah dengan tenang dan fokus pada makanan dan teman-teman Anda. Jika Anda membutuhkan waktu sejenak, cari tempat di toilet untuk sejenak dan kembali setelah Anda merasa tenang dan nyaman.
11. Etika Menggunakan Tusuk Gigi
Menggunakan tusuk gigi setelah makan sebenarnya tidak masalah — tapi cara melakukannya sangat penting. Membersihkan gigi secara terbuka di meja makan dianggap tidak sopan dan kurang enak dipandang. Jika Anda perlu menggunakan tusuk gigi, tutuplah mulut dengan tangan atau permisi ke kamar mandi.
Jangan pernah membersihkan gigi sambil berbicara dengan orang lain atau menunduk ke arah piring. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan kecil ini membantu menjaga suasana tetap nyaman dan sopan bagi semua orang di meja.
12. Merapikan Diri di Meja Makan
Meja makan bukan tempat untuk merapikan rambut, mengoleskan lipstik ulang, atau memeriksa gigi di cermin. Bahkan hal-hal kecil seperti menggaruk kepala, mengikir kuku, atau memperbaiki riasan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman — dan juga kurang higienis. Jika Anda ingin merapikan diri, pergilah ke kamar mandi terlebih dahulu. Etika makan yang baik berarti menjaga fokus pada makanan dan percakapan, bukan pada penampilan pribadi.
13. Cara Menggunakan Serbet (Napkin)
Serbet bukan hanya hiasan meja — ini adalah bagian penting dari etika makan yang benar. Begitu Anda duduk, letakkan serbet di pangkuan (jangan pernah menyelipkannya di kerah baju). Gunakan dengan lembut untuk menyeka mulut, bukan untuk menggosok atau membersihkan wajah.
Jika Anda harus meninggalkan meja sementara, letakkan serbet di kursi untuk memberi tanda bahwa Anda akan kembali. Setelah selesai makan, lipat serbet dengan rapi dan letakkan di sisi kiri piring. Jangan diremas atau dibiarkan berantakan di atas meja seperti tisu bekas — itu kesalahan etika besar!
14. Mulai Makan Sebelum yang Lain / Sebelum Tuan Rumah
Tidak peduli seberapa harum makanan di depan Anda, tahan keinginan untuk mulai makan sebelum yang lain — terutama sebelum tuan rumah atau orang yang lebih tua di meja memulai. Hal ini menunjukkan rasa hormat dan kesabaran. Makan bersama adalah pengalaman sosial, dan memulai terlalu cepat bisa dianggap egois atau tidak sabar.
Tunggu hingga semua orang telah dilayani dan tuan rumah memberikan isyarat (biasanya dengan mulai makan terlebih dahulu) sebelum Anda mengambil suapan pertama. Gestur sederhana ini mencerminkan kesopanan dan tata krama yang baik.
15. Mengambil Porsi Berlebihan dari Hidangan Bersama
Saat makan bersama orang lain, selalu perhatikan ukuran porsi yang Anda ambil. Mengambil terlalu banyak makanan sebelum orang lain sempat menyajikan untuk dirinya sendiri dianggap rakus dan tidak sopan.
Mulailah dengan porsi sedang, dan tambahkan lagi hanya jika masih ada cukup untuk semua orang. Ingat, etika makan yang baik berarti berbagi dengan bijak, bukan menguasai bagian terbaik dari hidangan. Lebih baik menyisakan sedikit untuk orang lain daripada menumpuk makanan terlalu banyak di piring Anda sendiri.
Etika Makan di Berbagai Situasi Jamuan
Etika makan tidak berlaku sama untuk semua situasi. Aturannya bisa berbeda tergantung pada tempat, tujuan makan, dan latar belakang budaya. Dalam suasana makan formal seperti acara bisnis atau jamuan resmi, tata krama di meja biasanya lebih terstruktur. Peralatan makan digunakan dari bagian luar ke dalam sesuai urutan hidangan. Postur duduk yang baik, makan tanpa suara, serta percakapan yang sopan dan pantas sangat diperhatikan. Detail kecil ini membantu menciptakan suasana yang profesional dan saling menghargai.
Sebaliknya, makan dalam suasana informal—seperti bersama keluarga atau teman dekat—terasa jauh lebih santai. Meski kesopanan dasar tetap penting, Anda tidak perlu terlalu khawatir soal aturan penggunaan alat makan atau postur duduk yang sempurna. Fokus utamanya adalah menikmati makanan dan kebersamaan. Meski begitu, tetap bersikap mindful menunjukkan etika yang baik.
Perbedaan budaya juga sangat memengaruhi etika makan. Di banyak budaya Barat, garpu dan pisau digunakan untuk hampir semua jenis makanan, sementara di banyak budaya Asia, sendok dan sumpit lebih umum digunakan. Memahami perbedaan ini dapat membantu menghindari situasi canggung dan menunjukkan rasa hormat terhadap kebiasaan setempat.
Saat makan malam bisnis, sebaiknya jaga percakapan tetap profesional dan perhatikan waktu. Sementara itu, acara makan keluarga memberi ruang untuk bersikap lebih santai. Cukup ingat untuk menghargai waktu makan bersama dan menghindari topik yang sensitif. Di situasi apa pun, etika makan pada dasarnya adalah tentang rasa hormat, kepedulian, dan membuat semua orang merasa nyaman di meja makan.
Selangkah Lebih Jauh: Etiket untuk Tamu Berpengalaman
Bagi mereka yang sudah sering bersantap di restoran fine dining, daftar di atas adalah pondasinya. Ada beberapa etiket yang beroperasi satu tingkat di atasnya — dan di sinilah tamu yang benar-benar berkesan membedakan diri mereka.
Berinteraksi dengan sommelier
Sommelier bukan sekadar penerima pesanan wine. Ceritakan preferensi Anda dan hidangan yang sudah Anda pesan, ini membantu mereka membuat rekomendasi yang benar-benar sesuai dengan makan malam Anda.
Biarkan mereka mempresentasikan botol, mengonfirmasi labelnya, dan menawarkan cicipan sebelum Anda menyetujui. Anggukan kepala yang santai sudah cukup. Interaksi singkat ini bukan sekadar soal memesan wine, ini bentuk penghargaan terhadap keahlian yang memperkaya pengalaman makan Anda.
Menyampaikan pantangan makanan dengan bijak
Kalau Anda punya pantangan atau preferensi makanan tertentu, sampaikan saat membuat reservasi, bukan setelah duduk di meja. Ini memberi dapur waktu untuk mempersiapkan tanpa mengganggu alur pelayanan. Kalau memang harus disampaikan di meja, lakukan dengan tenang kepada pelayan di awal makan, bukan di tengah hidangan. Bersikap bijak dalam hal ini mencerminkan kepedulian terhadap dapur maupun sesama tamu.
Seni percakapan di meja fine dining
Di fine dining, percakapan adalah bagian dari pengalaman itu sendiri. Percakapan yang baik bersifat inklusif, dijaga volumenya agar tidak mengganggu meja lain, dan menghindari topik yang terlalu berat atau sensitif. Tujuannya sederhana: semua orang pergi dari meja dengan perasaan nyaman dan dihargai, bukan hanya kenyang.
Kepekaan Budaya: Etiket Fine Dining di Jakarta
Dunia fine dining Jakarta memadukan standar internasional dengan nilai-nilai lokal. Memahami keduanya membuat kehadiran Anda di meja terasa lebih berkesan dan berbudaya.
Menghargai kebiasaan lokal dalam setting internasional
Di Jakarta, di mana standar kuliner global bertemu dengan kekayaan budaya Indonesia, hal-hal kecil bisa berbicara banyak. Meskipun protokol peralatan makan Barat berlaku di Lawry’s, ucapan ‘terima kasih’ yang tulus kepada staf, kontak mata yang penuh hormat, dan sikap penuh perhatian kepada mereka yang melayani Anda menunjukkan kepekaan yang lebih dari sekadar tahu garpu mana yang harus digunakan.
Makan malam bisnis di Jakarta
Di Jakarta, makan malam atau makan siang di restoran fine dining sering kali sama pentingnya dengan agenda bisnis itu sendiri, karena memang itulah tempatnya membangun hubungan. Dalam situasi ini, biarkan tuan rumah yang menentukan ritme makan dan arah percakapan. Hindari langsung membawa topik bisnis yang berat sebelum suasana mencair. Datang tepat waktu adalah bentuk penghargaan paling nyata kepada tuan rumah.
Etika makan yang baik, pada intinya, adalah tentang membuat orang-orang di sekitar Anda merasa nyaman. Di Lawry’s The Prime Rib Jakarta, naluri itu sudah tertanam dalam segala hal yang kami lakukan, dari cara tim kami melayani hingga cara ruang makan kami dirancang. Kalau Anda siap menikmati makan malam di mana setiap detail sudah dipikirkan, kami dengan senang hati menyambut Anda. Reservasi meja Anda sekarang
FAQ
Mencelup dua kali menyebarkan kuman dan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap orang lain, terutama saat berbagi hidangan bersama.
Perhatikan orang lain dan bersikaplah bijak dalam berbagi. Kalau Anda sudah mengambil bagian terbaik, beri kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan bagian yang sama di giliran berikutnya.
Tidak, menggunakan ponsel di meja makan mengganggu pengalaman bersantap dan dianggap tidak sopan. Tetaplah hadir sepenuhnya dan nikmati momen tersebut.
Table manners untuk anak adalah kebiasaan sederhana yang mengajarkan mereka cara makan dengan sopan dan penuh rasa hormat di meja makan. Ini mencakup mencuci tangan sebelum makan, duduk dengan baik di kursi, menggunakan alat makan dengan benar, mengunyah dengan mulut tertutup, serta mengucapkan "tolong" dan "terima kasih". Anak juga diajarkan untuk menunggu sampai semua orang mendapat makanan sebelum mulai makan, dan meminta izin dengan sopan kalau membutuhkan sesuatu.
Reserve Table
Lawry’s Restaurants is the perfect place to begin your venue search for any occasion.
Related Blog
Based on What You Read
Urutan Potongan Steik Paling Berlemak Berdasarkan Rasa dan Marbling
10 Steak Termahal di Dunia: Apakah Harganya Sebanding dengan Kualitasnya?